Rabu, 17 April 2013

MEKANISME PASAR


1.     Pendahuluan : Permintaan, Penawaran, dan Regulasi Tingkat Harga
                Dalam menjelaskan hubungan antara permintaan, penawaran, dan akibatnya terhadap tingkat harga, Abu Yusuf mengatakan : “Tidak ada batasan tertentu tentang murah dan mahal yang dapat dipastikan. Hal tersebut ada yang mengaturnya. Prinsipnya tidak bisa diketahui. Murah bukan karena melimpahnya makanan, demikian juga mahal tidak disebabkan oleh kelangkaan makanan. Murah dan mahal merupakan ketentuan Allah. Terkadang makanan berlimpah tetapi mahal, dan terkadang makan sangat sedikit tetapi murah.”(Abu Yusuf,dalam kitab “Al-Kharaj, (Bierut:Dar al ma’arif, 1979))
            Menurut abu Yusuf, tingkat harga tidak hanya bergantung pada penawaran semata, tetapi juga dari permintaan. Kenaikan atau penurunan tingkat harga tidak harus selalu berhubungan dengan kenaikan dan penurunan produksi saja.
            Ibnu Thaimiyah mendukung penetapan harga dalam kasus di mana komoditas kebutuhan pokok yang harganya telah naik akibat dimanipulasi, dan menyarankan adanya suatu peyediaan industri-industri tertentu oleh pemerintah/negara, serta juga memeperbaiki tingkat pengupahan jika hal tersebut tidak terjadi secara memuaskan (persaingan bebas) oleh kekuatan-kekuatan pasar. Alasannya karena Ibnu Thaimiyah menganggap industri-industri dan jasa-jasa yang berbeda adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) bagi semua Muslim, dengan implikasi jika ketersediaan industri-industri dan jasa-jasa tersebut tidak mencukupi, maka adalah kewajiban bagi negara untuk mengurusnya. Menggambarkan bahwa industri dan perdagangan adalah kewajiban bersama religius, Al-Ghazali menyatakan, “ Apabila industri-industri dan perdagangan-perdagangan tersebut ditinggalkan begitu saja, perekonomian akan runtuh dan manusia akan lenyap.”


2.     Pemikiran Ilmuwan Muslim
A.    Thomas Aquinas Vs Ibn Thaimiyah
Thomas Aquinas adalah seorang filsuf dan ahli theology ternama yang berasal dari italia. Di dalam perekonomian, masalah yang dibahas oleh Aquinas adalah berhubunagan dengan perniagaan, harga yang adil, kepemilikan, dan riba. Namun pada masa itu, ide-ide perekonomian yang diwarisinya dari Aristoteles ini dimodifikasi serta diperbaikinya sesuai dengan kebutuhan pada masa itu, serta dalam rangka mensintesis dengan ajaran Nasrani.
Namun tidak seperti Aquinas, Ibn Thaimiyah berpikiran bahwa Aristoteles salah atau keluar jalur, dan mengkritik Aristoteles dalam tulisan-tulisannya.       
Harga Pasar
Dalam menetapkan harga pasar, Aquinas menemukan ide dari tulisan Aristoteles, sementara Ibn Thaimiyah megambil dari  beberapa hadist Nabi SAW. Tetapi keduanya memiliki konsep yang mirip dalam harga pasar, seperti : tidak dibolehkan adanya penipuan dan haruslah terjadi pasar yang kompetitif. Perbedaannya, Aquinas hanya mempertimbangkan nilai subjektif dari sebuah objek dari sisi penjual saja, sementara Ibn Thaimiyah mempertimbangkan nilai subjektif objek dari sisi pembeli, sehingga menjadikan analisisnya lebih baik daripada Aquinas.
Mekanisme Pasar dan Penetapan Harga
Ibn Thaimiyah berpendapat bahwa peningkatan harga tidak selalu disebabkan oleh ketidakadilan (zulm/injustice) dari para pedagang atau penjual, sebagaimana banyak dipahami orang pada waktu itu. Dengan tegas ia mengatakan bahwa harga merupakan hasil interaksi hukum permintaan penawaran yang terbentuk karena berbagai faktor yang kompleks.
Dalam kitab Fatawa-nya, Ibn Thaimiyah memberikan penjelasan terperinci tentang beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan, dan kemudian tingkat harga, diantaranya :
1.      Keinginan orang (al-raghabah) terhadap barang yang berbeda-beda dipengaruhi kelangkaan barang yang diminta (al-matlub).
2.      Jumlah orang yang meminta (demander/thullab)
3.      Kuat lemahnya kebutuhan barang
4.      Kualitas pembeli (al-mu’awid)
5.      Jenis (uang) pembayaran
6.      Tujuan dari transaksi harus menguntungkan penjual dan pembeli
7.      Kasus yang sama dapat diterapkan pada orang yang menyewakan suatu barang.
Kemungkinan ia berada pada posisi yang sedemikian rupa sehingga penyewa dapat memperoleh manfaat dengan tanpa (tambahan) biaya apapun. Namun, kadang-kadang sebaliknya.
Selain itu, menurut Ibn Thaimiyah, penawaran bisa datang dari produksi domestik dan impor. Perubahan dalam penawaran digambarkan sebagai peningkatan atau penurunan dalam jumlah barang yang ditawarkan, sedangkan permintaan sangat ditentukan oleh selera dan pendapatan. Hal ini dapat dilihat pada kurva yang akan digambarkan pada saat presentasi (Gambar kurva : Penawaran yang Menurun Akibat Inefisiensi Produksi).
B.     Ibn Khaldun
Pemikiran Ibn Khaldun tentang pasar termuat dalam buku yang Al Muqadimah, terutama dalam bab “Harga-harga di kota-kota” (Price in Towns). Menurutnya, ada dua kategori barang, yaitu barang pokok dan barang mewah. Jika suatu kota berkembang dan jumlah penduduknya semakin banyak, maka harga barang pokok akan menurun dan harga barang mewah akan menaik, yang disebabkan oleh meningkatnya penawaran bahan pangan dan barang pokok lainnya karena pentingnya barang ini dan dibutuhkan setiap orang sehingga pengadaannya akan diprioritaskan, dan sejalan dengan meningkatnya gaya hidup yang mengakibatkan peningkatan permintaan barang mewah. Hal ini dapat dijelaskan melalui ilustrasi kurva yang akan digambarakan saat prsentasi.
Dalam buku tersebut, Ibn Khaldun mendeskripsikan pengaruh kenaikan dan penurunan penawaran terhadap tingkat harga, dengan menyatakan :
“... When goods (brought from outside) are few and rare, their prices go up. On the other hand, when the country is near and the road is safe for travelling, there will be many to transport the goods. Thus they will be found in large qualities, and the price will go down...”
Menurut Ibn Khaldun, tingkat keuntungan yang wajar akan mendorong tumbuhnya perdagangan, sementara tingkat keuntungan yang terlalu rendah akan membuat lesu perdagangan. Jika tingkat keuntungan terlalu tinggi perdagangan juga akan melemah sebab akan menurunkan tingkat permintaan konsumen. (seperti yang tergambar pada kurva)
Ibn Khaldun lebih menfokuskan kepada faktor yang mempengaruhi harga yang terjadi di pasar bebas, namun tidak mengajukan saran kebijakan pemerintah untuk mengelola harga, berbeda dengan Ibn Thaimiyah yang dengan tegas menentang intervensi pemerintah sepanjang pasar berjalan dengan bebas dan nornal.
C.    MEKANISME PASAR DALAM ISLAM : Intervensi Pasar
Dalam konsep ekonomi islam, cara pengendalian harga ditentukan oleh penyebabnya. Bila penyebabnya adalah  perubahan pada genuine demand dan genuine supply, maka mekanisme pengendalian dilakukan melalui market intervention. Sedangkan bila penyebabnya adalah distorsi terhadap geniune demand dan genuine supply, maka mekanisme pengendalian  dilakukan melalui penghilangan distorsi termasuk penentuan price intervention.
Intervensi pasar telah dilakukan pada zaman Rasulullah dan Khulafahur Rasyidin, yaitu saat kaum Muslimin mengalami kenaikan harga di Madinah yang disebabkan faktor  yang  genuine. Untuk mengatasinya, khalifah Umar ibn Khattab r.a. melakukan market intervention, yakni dengan mengimpor barang dari Mesir ke Madinah. Jadi intervensi langsung dilakukan melalui barang yang ditawarkan. Market intervention menjadi sangat penting dalam menjamin pengadaan barang kebutuhan pokok, dan juga dalam menjamin kelancaran perdagangan antarkota.
Intervensi Harga : Ceiling Price
Saat jumlah barang yang diminta melebihi jumlah barang yang ditawarkan, maka selisih antara keduanya disebut exess demand, dan ini menimbulkan korupsi dan kolusi. Misalkan pengusaha akan berusaha mendapatkan bunga kredit rendah ketika suku bunga pasar melebihi yang ditetapkan pemerintah, dan ini mendorong terjadinya pasar gelap. Biasanya dengan suap-menyuap antara pengusaha dan bankir. Selisih suku bunga kredit program inilah yang menjadi tawar-menawar jumlah uang suap, sehingga kredit program tidak mencapai sasaran, dan menimbulkan penyalahgunaan kredit (mis-used atau side streaming).
Oleh karena itu  islam melarang adanya intevensi harga, selama pasar berjalan rela sam rela tanpa ada yang melakukan distorsi. (seperti yang tergambar pada kurva)
Dengan adanya ceiling price ini, konsumen mendapat tambahan consumer surplus, namun bagi produsen ini akan menurunkan producer surplus, namun kedua pihak baik konsumen maupun produsen akan kehilangan sejumlah surplus yang tidak dapat dinikmati oleh keduanya. Penurunan total surplus ini disebut dead weight loss. Sehingga secara keseluruhan pengaruh ceiling price adalah :
Hilangnya consumer surplus                                                          :  B
Penurunan producer surplus
(yang tidak dinikmati siapapun)                                                     :  C
Total penurunan (dead weight loss)                                                :



Intervensi Harga : Floor Price
Saat jumlah barang yang ditawarkan melebihi jumlah barang yang diminta, maka selisih antara keduanya disebut exess supply, dan ini menimbulkan korupsi dan kolusi. Misalkan petani akan berusaha mendapatkan harga dasar gabah yang jauh lebih rendah ketika harga dasarnya di bawah yang ditetapkan pemerintah. Hal ini mendorong terjadinya pasar gelap. Biasanya dengan suap-menyuap antara petani dan petugas KUD. Selisih harga pasar dan harga dasar inilah yang menjadi tawar-menawar jumlah uang suap, sehingga harga dasar tidak efektif bagi petani.
Dengan adanya floor price ini, akan menurunkan consumer surplus, produsen mendapat tambahan producer surplus, namun kedua pihak akan kehilangan sejumlah surplus yang tidak dapat dinikmati oleh keduanya. Penurunan total surplus ini disebut dead weight loss. Sehingga secara keseluruhan pengaruh floor price adalah :
Hilangnya consumer surplus                                                          :  C
Penurunan consumer surplus
(yang tidak dinikmati siapapun)                                                     :  B
Total penurunan (dead weight loss)                                                :


Intervensi Harga Islami
Dalam rangka melindungi hak penjual dan pembeli, Islam membolehkan bahkan mewajibkan pemerintah melakukan price intervention bila kenaikan harga disebabkan adanya distorsi terhadap genuine demand dan genuine supply. Umar ibn Khattab r.a. mendatangi suatu pasar dan menemukan bahwa Habib bin Abi Balta’ menjual anggur kering pada harga di bawah harga pasar. Umar langsung menegurnya: “Naikkan hargamu atau tinggalkan pasar kami.”
Kebolehan price intervention antara lain karena :
a.       Price intervention melindungi penjual dalam hal profit margin sekaligus melindungi pembeli dalam hal purchasing power.
b.       Bila tidak dilakukan price intervention maka penjual dapat menaikan harga dengan cara ikhtikar (ghaban faa-hisy). Dalam hal ini penjual menzalimi si pmbeli.
c.        Price intervention berarti pula melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas, karena pembeli biasanya mewakili masyarakat yang lebih luas, sedangkan penjual mewakili kelompok masyarakat yang lebih kecil.

Ibn Thaimiyah’s Price
Bagi Ibn Thaimiyah price intervention ada dua :
a.       Price intervention yang zhalim, yaitu  harga atas (ceiling price) ditetapkan di bawah harga ekuilibrium dalam mekanisme pasar
b.      Price intervention yang adil, yaitu bila tidak menimbulkan aniaya terhadap penjual maupun pembeli.

Menurut Ibn Thaimiyah ada tiga keadaan  di mana price intervention harus dilakukan, yaitu pemerintahlah yang menetapkan harga yang adil pada :
a.       Saat konsumen membutuhkan, produsen tidak mau menjual barangnya kecuali dengan harga lebih tinggi daripada reguler market price.
b.      Saat konsumen meminta harga yang terlalu rendah, produsen menawarkan harga yang terlalu tinggi menurut konsumen, maka price intervention dilakukan dengan musyawarah yang difiltrasi pemerintah.
c.       Saat masyarakat membutuhkan jasa, pemilik jasa, seperti tenaga kerja menolak bekerja kecuali pada harga yang lebih tinggi daripada yang berlaku.
 
KESIMPULAN

Dari uraian penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mekanisme pasar secara islami jauh lebih baik. Seperti Ibn Thaimiyah’s  price dimana saat ditetapkan supply bertemu demand, market intervention malah mengembalikan harga pada harga keseimbangan semula.. Oleh karena itu, islamyc market intervention ini tidak akan menimbulkan  excess supply atau excess demand sebagaimana yang terjadi pada market intervention konventional. Lebih jauh lagi, Islamic market intervention  tidak akan menimbulkan dead weight loss sebagaimana yang terjadi pada market intervention konvensional.


BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

           
Karim, Adiwarman A., Ekonomi Mikro Islam, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2007.
Rianto, M.Nur., dan Euis Amalia., Teori Mikro Ekonomi : Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Konvensional. Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2010.



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar